Translate

Rabu, 11 November 2015

Seminar Perencanaan Karir untuk SMP dan SMA



SEMINAR PERENCANAAN KARIR
SMP dan SMA
Menggunakan Media Mind Mapping
(Optimalkan Karir Masa Depan Anak Remaja)
Narasumber:
Cahaya Fitria Sari, S.Pd., Kons.
[Konselor Masyarakat]

Daftarkan dirimu melalui sms dengan format :
 seminar_nama lengkap_nama sekolah_kelas
atau isi formulir di bawah ini!

Jadwal Pelaksanaan
Gelombang I
11 November 2015
13.00 - selesai
Gelombang II
10 Desember 2015
13.00 - selesai
Gelombang III
11 Januari 2015
13.00 - selesai



Office Kami
AURA COUNSELING CENTER
Jl. Magelang Km. 6
Loano Wetan (seberang Pasar Loano)

GRATIS
Untuk 100 peserta pertama
>100 peserta biaya @10000
Mahasiswi/ guru/ Tentor/ Konselor @20000



www.auracounseling.com          twitter @auracounseling
Call 0275-324193  sms 085270048283

Powered byEMF Survey


Selasa, 03 November 2015

Membedakan Profesi KONSELOR, PSIKOLOG, dan PSIKIATER



Sebagian besar masyarakat menganggap sama antara konselor, psikolog, dan psikiater . Padahal, ketiganya memiliki cara kerja, perspektif, dan pendekatan yang berbeda dalam kerja profesionalnya.

Ketiganya sering dianggap sama karena berhubungan dengan penanganan masalah kejiwaan manusia. Benar, baik psikolog, psikiater, maupun konselor, ketiganya berfokus untuk membantu seseorang dalam mengatasi permasalahan yang dialami dalam hidupnya. Akan tetapi, cara kerja serta pendekatannya dalam mengatasi permasalahan manusia berbeda-beda. Sebelum menjawab kepada siapa seharusnya kita datang ketika mengalami masalah tertentu, mari kita pahami lebih lanjut pendekatan dan cara kerja masing-masing profesi tersebut.

KONSELOR – bergelar M.K. / M.A. in counseling / Kons. Gelar konselor bisa diperoleh dari program Pendidikan (S.Pd. / M.Pd. yang melanjutkan spesialisasi dalam bidang Konselor), atau dari program Teologi. Program Konselor di bawah Fakultas Psikologi di Indonesia memang belum ada. Di luar negeri, Konselor atau Counseling Psychology merupakan program yang ada di bawah Program Studi Psikologi. Itulah sebabnya ada beberapa konselor yang bergelar M.A. (Master of Arts).  Pendekatan seorang konselor mirip dengan psikologi. Hanya saja, fokus kerja seorang konselor ialah kepada individu yang normal bermasalah. Normal bermasalah berarti mereka yang sebenarnya memiliki masalah dan tantangan dalam hidup, namun tidak sampai menyebabkannya mengalami gangguan jiwa yang serius, seperti: skizofrenia, depresi dengan gejala psikotik, atau gangguan-gangguan ekstrim lainnya. Oleh sebab itu, pendekatan seorang konselor ialah bahwa setiap manusia memiliki kapasitas penuh untuk menentukan hidupnya ke arah yang positif dan konstruktif, sehingga peran konselor ialah untuk menjadi seorang teman, mentor, dan pendengar yang baik bagi individu tersebut. Bedanya dengan psikologi, seorang konselor tidak dibekali kompetensi yang mendalam untuk menangani seseorang dengan gangguan kejiwaan yang serius.

Di Indonesia, program konselor seolah-olah disisipkan dalam bidang psikologi, sehingga seorang psikolog juga dapat berperan sebagai seorang konselor ketika menangani manusia yang normal bermasalah. Walau demikian, sebetulnya pasti akan ada perbedaan cara penangangan antara psikolog dan konselor mengingat penekanan dalam proses belajarnya pun berbeda.  Ada beberapa tes psikologi (namun tidak semua tes psikologi) yang juga dapat dilakukan oleh seorang Konselor yang sudah mendapatkan pelatihan di bidang itu.

Jumat, 30 Oktober 2015

Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia



Sejarah perkembangan Bimbingan Konseling di Indonesia mengalami perubahan di beberapa dekade, berikut perkembangan Bimbingan dan Koseling di tiap dekadenya:

A.   Perkembangan Bimbingan dan Konseling Sebelum Kemerdekaan
Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa dididik untuk mengabdi demi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajuan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.

Jumat, 23 Oktober 2015

Pendekatan Layanan BK



Dalam layanan BK, yang menjadi subjek adalah orang yang dibimbing. orang yang dibimbing dibentuk oleh lingkungan, dan lingkungan dikembangkan oleh orang – orang. Banyak masalah individu/kelompok disebabkan oleh lingkungan, dan dapat pula terjadi untuk membantu mengatasi masalah individu/kelompok yang ditangani justru lingkungannya. Dalam layanan BK, pembimbing tidak saja melihat orang yang dibimbing dengan segala karakteristiknya, tetapi juga melihat lingkungan (terutama lingkungan sosial) dengan segala karakteristiknya.

Banyak pendekatan untuk melihat pelayanan BK secara menyeluruh, seperti layanan BK dilihat dari:

     1.     Subyek yang dilayani (individu-kelompok, anak-remaja-dewasa-lansia)
     2.    Tempat pelayanan (di sekolah – di luar sekolah)
     3.    Bidang layanan (pribadi-sosial-karir-belajar dll)
     4.    Kegiatan pelayanan (informasi-penempatan-konseling-orientasi-pembelajaran dsb)
     5.   Fungsi pelayanan (pemahaman-pencegahan-pengentasan-pemeliharaan-pengembangan)
     6.    Metode pelayanan (konseling-nasehat-ceramah-latihan dsb)

Jika masing – masing aspek dikaitkan dengan aspek lainnya, maka akan dijumpai berbagai ragam layanan BK, misalnya layanan BK kepada individu di sekolah, layanan bidang pribadi, kegiatan layanan informasi, dengan fungsi pemahaman dan dilakukan dengan ceramah. Demikian pula jika aspek tertentu dikaitkan pula dengan aspek lainnya.

Layanan BK di Industri, Perusahaan dan Kantor



Awal perkembangan BK di Amerika-Eropa adalah pada bidang pekerjaan (vocational guidance), hal ini sejalan dengan adanya revolusi industri. Perkembangan tersebut juga dipicu oleh pandangan baru dalam bidang manajemen terutama manajemen operasional, antara lain pandangan akan pemberian kesempatan berkembang dan meningkatkan prestasi kerja secara optimal kepada setiap karyawan, sehingga diperlukan pembinaan perorangan/karyawan dalam jabatan atau pekerjaannya. Di Amerika program bantuan untuk karyawan di lingkungan industri dinamakan EAP (Employee Assistance Programe). Program ini ditujukan baik untuk membantu karyawan yang memiliki masalah penampilan kerja maupun untuk karyawan yang mengalami masalah pribadi/keluarga.

Perkembangan sosial - ekonomi masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada gilirannya memberikan dampak tertentu bagi kehidupan masyarakat termasuk para karyawan. Berbagai problem dirasakan oleh karyawan, seperti problem keluarga, problem ekonomi, kesehatan mental, kepuasan kerja dan sebagainya, yang semuanya itu akan dibawa oleh karyawan dalam lingkungan kerja, yang pada akhirnya akan mempengaruhi produktivitas kerja. Melihat kenyataan tersebut maka perlu layanan BK di perusahaan atau di kantor.